Diskusi Soal Pendidikan Inklusi, PLDPI Surakarta Kunjungi ULD

Yogyakarta – UPT Layanan Disabilitas (ULD) Bidang Pendidikan dan Resource Center Kota Yogyakarta mendapat kunjungan dari Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (PLDPI) Surakarta pada Rabu, 5 Oktober 2022. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka diskusi terkait pendidikan inklusi yang selama ini dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Kepala ULD Drs. Aris Widodo., M.Pd., mengapresiasi kunjungan dan sesi diskusi dari PLDPI Surakarta tentang bagaimana pelaksanaan pendidikan inklusi di Kota Yogyakarta. Dalam diskusi, Aris banyak menjelaskan bagaimana ULD menjalankan pendidikan inklusi yang berfokus ke siswa hingga ke lingkungan sekolah.

“Tugas adanya ULD itu untuk anak-anak, agar mereka bisa bersekolah di manapun,” ucap Aris dalam diskusi di kantor ULD Kota Yogyakarta, Rabu, 5 Oktober 2022.

Diskusi selama kurang lebih 120 menit ini diisi dengan penjelasan serta tanya jawab tentang pendidikan inklusi. Dua Psikolog ULD, Raras Pramudita, M.Psi., dan Itsna Duroti Layyinatus Syifa, M.Psi., turut menjelaskan mengenai layanan asesmen siswa dan konsultasi Guru Pendamping Khusus (GPK) yang selama ini dilaksanakan ULD.

Raras mengatakan selama ini layanan psikologi ULD, seperti asesmen siswa, telah berjalan dengan cukup baik. Hal tersebut, kata dia, dapat tercipta karena kerja sama semua pihak yang ada seperti orang tua siswa, guru, dan sekolah.

“Karena kita bekerja untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) itu tidak bisa jalan sendiri. Semua pihak dan lingkungan harus terkait,” kata dia.

Kepala PLDPI Siwi Purno, S.Pd., mengatakan lembaganya berkunjung ke ULD agar bisa belajar lebih banyak mengenai pendidikan inklusif. Sebab, kata dia, banyak yang merekomendasikan ULD sebagai tempat untuk belajar pendidikan inklusi. “Kami mau belajar dari ULD,” tutur Siwi.

Siwi menyebutkan materi dan bahan diskusi bersama ULD Kota Yogyakarta ini akan diadaptasi oleh PLDPI Surakarta. Salah satunya, kata dia, terkait pelayanan konsultasi untuk GPK yang selama ini masih belum optimal diterapkan di Surakarta.

“Mungkin prosedurnya akan seperti apa, nanti akan bisa kami gunakan,” ucap dia.

Syafiul Hadi